Selasa, 29 November 2016

Hollywood

Hollywood
Hollywood Sign berlokasi di Los Angeles Metropolitan Area
Berlokasi di kawasan metropolis Los Angeles
Informasi umum
Lokasi Hollywood, Los Angeles, California
Negara Amerika Serikat
Koordinat 34°8′2,77″LU 118°19′18,1″BT / 34,13333°LU 118,31667°BB
Mulai dibangun 1923
Selesai 1923
Direnovasi Oktober 1978
Klien Woodruff and Shoults (Hollywoodland)
Informasi teknis
Sistem struktur Kayu dan lempeng logam (1923–1978)
Baja (1978–sekarang)
Ukuran Tinggi 45 ft (13.7 m)
Lebar 350 ft (106.7 m)
Desain dan konstruksi
Arsitek Thomas Fisk Goff
Hollywood Sign (sebelumnya bertuliskan "Hollywoodland") adalah markah tanah dan salah satu ikon kultural terkenal Amerika Serikat yang berlokasi di Los Angeles, California. Hollywood Sign berdiri di Mount Lee di kawasan Hollywood Hills Pegunungan Santa Monica. Markah tersebut berdiri menghadap ke arah distrik Hollywood. Tulisan "HOLLYWOOD" dieja pada huruf kapital berwarna putih dengan tinggi 45-foot (14 m)[1] dan lebar 350-foot (110 m). Merkah tersebut pada awalnya dibuat sebagai media promosi untuk perumahan lokal yang dikembangkan pada tahun 1923, namun mendapatkan perhatian yang terus meningkat dari orang-orang setelah tidak dipakai lagi.[2] Markah tersebut telah berkali-kali menjadi target kelakar dan vandalisme tetapi telah diberikan perbaikan, termasuk pemasangan sistem pengaman untuk mencegah vandalisme. Markah tersebut saat ini dilindungi dan diurus oleh organisasi nirlaba Hollywood Sign Trust.

Dilihat dari bawah, kontur bukit Hollywood Sign akan memberikan penampilan "bergelombang" pada markah tersebut. Namun ketika dilihat dari ketinggian yang berkisar sama, seperti pada foto di sebelah kanan, huruf-huruf tersebut akan nampak lurus dan sejajar.

Markah tersebut seringkali muncul dalam budaya populer, terutama dalam film dan serial televisi yang berlatarkan di Hollywood atau sekitarnya. Markah serupa dengan ejaan kata yang lain juga sering dibuat sebagai parodi.

Sejarah

Awal mula

Markah tersebut pertama kali didirikan pada tahun 1923 dan awalnya bertuliskan "HOLLYWOODLAND". Tujuannya adalah untuk mengiklankan perumahan baru yang sedang dikembangkan di kawasan bukit di atas distrik Hollywood, Los Angeles. H.J. Whitley pernah menggunakan markah serupa untuk mengiklankan pengembangan Whitley Heights miliknya yang berlokasi di antara Highland Avenue dan Vine Avenue. Dia menyarankan kepada temannya, Harry Chandler, pemilik koran Los Angeles Times, bahwa sindikat tanah yang ia terlibat di dalamnya membuat markah serupa untuk mempromosikan tanah mereka.[3] Pengembang real estate Woodruff and Shoults menyebut proyek mereka "Hollywoodland" dan mempromosikannya sebagai "lingkngan megah tanpa biaya berlebih di bukit sisi Hollywood".[4]

Mereka mengontrak Crescent Sign Company untuk mendirikan tigabelas huruf di sisi bukit, yang masing-masing menghadap ke selatan. Pemilik perusahaan, Thomas Fisk Goff (1890–1984), mendesain markah tersebut. Setiap huruf berukuran lebar 30 feet (9.1 m) dan tinggi 50 feet (15 m), dan seluruhnya dilengkapi dengan 4.000 bola lampu. Markah tersebut dirancang menyala bergilirian; "HOLLY," "WOOD," dan "LAND" akan bersinar bergantian sebelum seluruhnya menyala bersama. Di bawah markah Hollywoodland dipasangi lampu sorot untuk menarik perhatian lebih. Proyek markah ini memakan biaya sekitar $21.000 (sekitar $250.000 pada kurs tahun 2011).[5]

Markah tersebut resmi selesai pada 13 Juli 1923, dan direncanakan untuk bertahan hanya selama satu setengah tahun.[6] Tetapi pasca kenaikan sinema Amerika di Los Angeles saat Era Emas Hollywood, markah tersebut menjadi simbol yang dikenal secara internasional, dan sesudahnya dibiarkan berdiri disana.

IR SOEKARNO

Soekarno
Presiden Indonesia pertama
Untuk film tentang tokoh ini pada tahun 2013, lihat Soekarno (film).
Dr.(H.C.) Ir. H.
Soekarno

Presiden Indonesia ke-1
Masa jabatan
18 Agustus 1945 – 12 Maret 1967 (21 tahun)
Perdana Menteri
Daftar
Sutan Syahrir
Amir Sjarifoeddin
Mohammad Hatta
Mohammad Natsir
Soekiman W
Wilopo
Ali Sastroamidjojo
Burhanuddin Harahap
Djoeanda Kartawidjaja
Soekarno
Soeharto
Wakil Presiden Mohammad Hatta (1945–1956)
Didahului oleh Tidak ada, jabatan baru
Digantikan oleh Soeharto
Perdana Menteri Indonesia ke-11
Masa jabatan
9 Juli 1959 – 25 Juli 1966 (7 tahun)
Didahului oleh Djuanda Kartawidjaja
Digantikan oleh Soeharto
(Ketua Presidium Kabinet)
Informasi pribadi
Lahir Kusno Sosrodihardjo
6 Juni 1901
Bendera Belanda Surabaya, Jawa Timur, Hindia Belanda
Meninggal 21 Juni 1970 (umur 69)
Bendera Indonesia Jakarta, Indonesia
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Partai politik Indonesian National Party logo.gif Partai Nasional Indonesia
Suami/istri Oetari (1921–1923)
Inggit Garnasih (1923–1943)
Fatmawati (1943–1956)
Hartini (1952–1970)
Kartini Manoppo (1959–1968)
Ratna Sari Dewi (1962–1970)
Haryati (1963–1966)
Yurike Sanger (1964–1968)
Heldy Djafar (1966–1969)
Anak
Dari Inggit
Ratna Juami (anak angkat)
Kartika (anak angkat)
Dari Fatmawati
Guntur Soekarnoputra
Megawati Soekarnoputri
Rachmawati Soekarnoputri
Sukmawati Soekarnoputri
Guruh Soekarnoputra
Dari Hartini
Taufan Soekarnoputra
Bayu Soekarnoputra
Dari Ratna
Karina Kartika Sari Dewi Soekarno
Dari Haryati
Ayu Gembirowati
Dari Kartini Manoppo
Totok Suryawan Soekarnoputra
Profesi Insinyur
Politikus
Agama Islam
Tanda tangan
Berkas:Konfrensi Asia Afrika.webmPutar media
Soekarno di Konferensi Asia-Afrika
Dr.(H.C.) Ir. H. Soekarno1 (ER, EYD: Sukarno, nama lahir: Koesno Sosrodihardjo) (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 – meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970 pada umur 69 tahun)[note 1][note 2] adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945–1966.[5]:11, 81 Ia memainkan peranan penting dalam memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.[6]:26-32 Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945. Soekarno adalah yang pertama kali mencetuskan konsep mengenai Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan ia sendiri yang menamainya.[6]

Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial, yang isinya —berdasarkan versi yang dikeluarkan Markas Besar Angkatan Darat— menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga keamanan negara dan institusi kepresidenan.[6] Supersemar menjadi dasar Letnan Jenderal Soeharto untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengganti anggota-anggotanya yang duduk di parlemen.[6] Setelah pertanggungjawabannya ditolak Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum ke empat tahun 1967, Soekarno diberhentikan dari jabatannya sebagai presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada tahun yang sama dan Soeharto menggantikannya sebagai pejabat Presiden Republik Indonesia.[6]

Tentang angin topan

Angin topan

Angin Topan yang memasuki perumahan warga
Angin topan adalah pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di wilayah tropis di antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah-daerah yang sangat berdekatan dengan khatulistiwa.[1] Angin topan disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu sistem cuaca.[butuh rujukan] Angin paling kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem dengan kecepatan sekitar 20 Km/jam.[1]Angin topan biasa dialami saat pergantian musim

Tentang pantun

Tentang Pantun

Pantun ialah puisi lama yang terikat oleh syarat-syarat tertentu (jumlah baris, jumlah suku kata, kata, persajakan, dan isi).

Ciri-ciri pantun adalah
a. Pantun terdiri dari sejumlah baris yang selalu genap yang merupakan satu kesatuan yang disebut bait/kuplet.
b. Setiap baris terdiri dari empat kata yang dibentuk dari 8-12 suku kata (umumnya 10 suku kata).
c. Separoh bait pertama merupakan sampiran (persiapan memasuki isi pantun), separoh bait berikutnya merupakan isi (yang mau disampaikan).
d. Persajakan antara sampiran dan isi selalu paralel (ab-ab atau abc-abc atau abcd-abcd atau aa-aa)
e. Beralun dua

Berdasarkan bentuk/jumlah baris tiap bait, pantun dibedakan menjadi:
a. Pantun biasa, yaitu pantun yang terdiri dari empat baris tiap bait.
b. Pantun kilat/karmina, yiatu pantun yang hanya tersusun atas dua baris.
c. Pantun berkait, yiatu pantun yang tersusun secara berangkai, saling mengkait antara bait pertama dan bait berikutnya.
d. Talibun, yaitu pantun yang terdiri lebih dari empat baris tetapi selalu genap jumlahnya, separoh merupakan sampiran, dan separho lainnya merupakan isi.
e. Seloka, yaitu pantun yang terdiri dali empat baris sebait tetapi persajakannya datar (aaaa).
Berdasarkan isinya, pantun dibedakan menjadi
a. Pantun anak-anak
- pantun bersuka cita
- pantun berduka cita
b. Pantun muda
- pantun perkenalan
- pantun berkasih-kasihan
- pantun perceraian
- pantun beriba hati
- pantun dagang
c. Pantun tua
- pantun nasehat
- pantun adat
- pantun agama
d. Pantun jenaka
e. Pantun teka-teki

Contoh Pantun:
Pantun Nasihat
Banyak sayur dijual di pasar
Banyak juga menjual ikan
Kalau kamu sudah lapar
Cepat cepatlah pergi makan
Tumbuh merata pohon tebu
Pergi ke pasar membeli daging
Banyak harta miskin ilmu
Bagai rumah tidak berdinding
Ke hulu membuat pagar
Jangan terpotong batang durian
Cari guru tempat belajar
Supaya jangan sesal kemudian
Pantun Anak-anak
Pohon ceri subur tumbuhnya
Petik buahnya masukkan kantong
Saling memberi saling menerima
Saling bantu tolong menolong
Bulu cenderawasih berkilauan
Burung merak sering menari
Walau kawan anak perantauan
Sidah jadi saudara sendiri
Anak bambu bernama rebung
Rebung dibeli di pasar pagi
Anak sekolah suka menabung
Semua keperluan bisa dibeli
Pantun Teka-teki
Burung nuri burung dara
Terbang ke sisi taman kayangan
Cubalah teka wahai saudara
Semakin diisi makin ringan?
Orang bekerja diberikan upah
Hidangan disaji dalam talam
Gajah putih ditengah rumah
Layar terkembang di waktu malam?
Minah ketawa terjerit-jerit
Melihat koyak pada seluar
Orang putih duduk sederet
Pagar didalam tebing diluar?

Monas

Monumen Nasional

Monumen Nasional
Merdeka Square Monas 02.jpg
Monumen Nasional
Informasi umum
Lokasi Jakarta, Indonesia
Alamat Lapangan Merdeka
Mulai dibangun 17 Agustus 1961
Selesai 12 Juli 1975
Diresmikan 12 Juli 1975
Tinggi 132 meter
Desain dan konstruksi
Arsitek Frederich Silaban,
R.M. Soedarsono
Kontraktor utama P.N. Adhi Karya
(tiang fondasi)
Monumen Nasional atau yang populer disingkat dengan Monas atau Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Sejarah

Setelah pusat pemerintahan Republik Indonesia kembali ke Jakarta setelah sebelumnya berkedudukan di Yogyakarta pada tahun 1950 menyusul pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Sukarno mulai merencanakan pembangunan sebuah monumen nasional yang setara dengan Menara Eiffel di lapangan tepat di depan Istana Merdeka. Pembangunan tugu Monas bertujuan mengenang dan melestarikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus membangkitkan inspirasi dan semangat patriotisme generasi penerus. Pada tanggal 17 Agustus 1954 sebuah komite nasional dibentuk dan sayembara perancangan monumen nasional digelar pada tahun 1955. Terdapat 51 karya yang masuk, akan tetapi hanya satu karya yang dibuat oleh Frederich Silaban yang memenuhi kriteria yang ditentukan komite, antara lain menggambarkan karakter bangsa Indonesia dan dapat bertahan selama berabad-abad. Sayembara kedua digelar pada tahun 1960 tapi sekali lagi tak satupun dari 136 peserta yang memenuhi kriteria. Ketua juri kemudian meminta Silaban untuk menunjukkan rancangannya kepada Sukarno. Akan tetapi Sukarno kurang menyukai rancangan itu dan ia menginginkan monumen itu berbentuk lingga dan yoni. Silaban kemudian diminta merancang monumen dengan tema seperti itu, akan tetapi rancangan yang diajukan Silaban terlalu luar biasa sehingga biayanya sangat besar dan tidak mampu ditanggung oleh anggaran negara, terlebih kondisi ekonomi saat itu cukup buruk. Silaban menolak merancang bangunan yang lebih kecil, dan menyarankan pembangunan ditunda hingga ekonomi Indonesia membaik. Sukarno kemudian meminta arsitek R.M. Soedarsono untuk melanjutkan rancangan itu. Soedarsono memasukkan angka 17, 8 dan 45, melambangkan 17 Agustus 1945 memulai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ke dalam rancangan monumen itu.[1][2][3] Tugu Peringatan Nasional ini kemudian dibangun di areal seluas 80 hektare. Tugu ini diarsiteki oleh Friedrich Silaban dan R. M. Soedarsono, mulai dibangun 17 Agustus 1961.

Papua

Pulau Papua

Papua
New Guinea Topography.png
Topografi Papua
LocationNewGuinea.png
Geografi
Lokasi Melanesia
Koordinat 5°20′LU 141°36′BT / 5,333°LS 141,6°BT
Kepulauan Kepulauan Melayu
Luas 785,753 km2 (303,381 sq mi)
Peringkat luas 2
Ketinggian tertinggi 4,884 m (16,502 kaki)
Puncak tertinggi Puncak Jaya
Negara
Indonesia
Provinsi Papua
Papua Barat
Papua Nugini
Provinsi Simbu
Tengah
Dataran Tinggi Timur
Britania Baru Timur
Sepik Timur
Enga
Teluk
Madang
Manus
Teluk Milne
Morobe
Irlandia Baru
Oro (Utara)
Dataran Tinggi Selatan
Barat
Dataran Tinggi Barat
Britania Baru Barat
Sepik Barat
Demografi
Populasi 11,306,940 (per 2014)
Kepadatan 14 /km2 (36 /sq mi)
Kelompok etnik Orang Papua, Austronesia
Pulau Papua atau Guinea Baru (bahasa Inggris: New Guinea, bahasa Indonesia: Nugini) atau yang dulu disebut dengan Pulau Irian, adalah pulau terbesar kedua (setelah Tanah Hijau) di dunia yang terletak di sebelah utara Australia. Pulau ini dibagi menjadi dua wilayah yang bagian baratnya dikuasai oleh Indonesia dan bagian timurnya merupakan negara Papua Nugini. Di pulau yang bentuknya menyerupai burung cendrawasih ini terletak gunung tertinggi di Indonesia, yaitu Puncak Jaya (4.884 m).

Nama Irian digunakan dalam Bahasa Indonesia untuk mengacu terhadap pulau ini juga terhadap provinsi, sebagaimana "Provinsi Irian Jaya". Nama ini diusulkan pada tahun 1945 oleh Marcus Kaisiepo,beruap, atau semangat untuk bangkit. Nama ini juga digunakan dalam bahasa pribumi lain seperti Bahasa Serui, Bahasa Merauke dan Bahasa Waropen.[1] Nama ini digunakan sampai tahun 2001 di mana pulau beserta provinsinya kembali dinamakan Papua. Nama Irian yang awalnya disukai oleh penduduk asli Papua, sekarang dianggap sebagai nama yang diberikan oleh Jakarta.[1]
"Nugini" berasal dari kata New Guinea, nama yang diberikan oleh orang Barat, yang di-Indonesiakan. Mereka dahulu berpendapat bahwa tanah Papua mirip Guinea, sebuah wilayah di Afrika dan akhirnya pulau ini disebut Guinea baru.

Istilah "Papua" digunakan untuk merujuk kepada pulau ini secara keseluruhan. Istilah "Papua" sekarang juga digunakan untuk merujuk kepada dua provinsi di Papua bagian barat yang termasuk dalam wilayah pemerintahan negara Indonesia, yaitu Papua dan Papua Barat. Namun beberapa publikasi (lihat misalnya Kartikasari et al. 2007[2]) membatasi penggunaan nama "Papua" untuk bagian barat Pulau Nugini.

Tektonik Setting Pulau Papua

Apabila dilihat secara kasat mata pulau Papua terlihat membentuk seperti burung, di mana bagian kepala merupakan Provinsi Papua barat, badan merupakan Provinsi Papua, dan ekor merupakan Papua Nugini. Tektonik Papua dipengaruhi oleh pergerakan 2 lempeng besar yaitu lempeng Pasifik ke arah barat dan lempeng Indo-Australia yang bergerak ke arah utara. Tumbukan tersebut membentuk suatu tatanan struktur kompleks terhadap papua yag sebagian besar dilandasi kerak benua Indo-Australia. Pertemuan lempeng ini juga menghasilkan zona subduksi oblique yang merupakan zona pertemuan busur vulkanik (pasifik) dan kontinen (IndoAustralia). Pulau Papua memiliki tektonical setting yang sangat komplek, di mana hasilnya membawa material dari mantel dan terakumulasi di Pulau Papua,sehingga Papua memiliki SDA yang menarik. Karena akibat dari tektonical setting berupa patahan dan lipatan tersebut, sehingga menghasilkan material-material yang berada dari dalam mantel terekspos sehingga menghasilkan banyak sumber daya alam berupa bahan tambang seperti emas, tembaga, dll.             Subduksi yang terjadi tadi berubah menjadi kolisi, sebagai hasilnya salah satunya berupa pegunungan Jaya Wiajaya yang merupakan pegunungan non-vulkanik dengan puncak tertinggi di Indonesia, memiliki puncak dengan ketinggian 4.884 m dengan panjang pegunungan kurang lebih 1300 km dan merupakan pegunungan tertinggi di Asia Tenggara. Diketahui bahwa pegunungan Jaya Wijaya ini terbentuk akibat adanya proses patahan dan lipatan yang terjadi akibat kolisi antar lempeng-lempeng tersebut yaitu lempang Pasifik dan lempeng Indo-Australia.